Berziarah ke Mecca of Mallet (Kereta Garut Bag. 6)

Berziarah ke Mecca of Mallet (Kereta Garut Bag. 6)

Sejak dahulu kala, Priangan dikenal sebagai daerah yang sangat subur dan kaya akan hasil alamnya. Keadaan ini membuat negara-negara asing memanfaatkan Priangan. Eksploitasi ekonomi atas Priangan dimulai pada tahun 1720, saat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) menerapkan tanam paksa penanaman kopi di Priangan dengan nama Preangerstelsel[1].

Priangan mengalami melalui bermacam-macam cara eksploitasi, dari Preangerstelsel, Cultuurstelsel, sampai investasi swasta yang didorong oleh adanya UU Agraria 1870. Proses eksploitasi ini tidak menemukan kendala dalam hal produksi dan pengerahan tenaga kerja manusianya. Masalah justru terjadi di lini distribusi, yakni saat barang produksi sudah siap dikirimkan. Jalan-jalan di Priangan, seperti juga di wilayah Hindia Belanda lainnya, masih sangat tidak memadai untuk dilalui. Sulit dan lamanya pengangkutan hasil bumi, baik yang dihasilkan dari pertanian penduduk maupun perkebunan, meningkatkan ongkos angkut dan memperlambat gerak ekonomi rakyat saat itu.

Selain hasil bumi, kabar keindahan Garut dan sekitarnya sudah mulai tersebar terutama di akhir abad 19. Para pengunjung tidak segan untuk menuliskan pengalaman indah mereka saat mengunjungi Garut di koran-koran berbahasa Belanda. Seorang pembaca Surat Kabar Bataviaasch Nieuwsblad merekomendasikan Garut sebagai tempat yang cocok untuk dikunjungi sebagai tempat wisata dan relaksasi[2].

Setelah berabad bergelut dengan masalah transportasi, kereta api pun didatangkan ke Priangan untuk mempermudah pengangkutan hasil alam seperti teh, dan juga pengangkutan manusia. Pembangunan jalur kereta api ini pun membuka kawasan-kawasan tersembunyi yang ada di Priangan, termasuk kota kecil di dekat Sungai Ci Manuk, bernama Cibatu.

Peta sekitar Cibatu tahun 1894. Sumber: Leiden University Libraries

Cibatu terletak di daerah pedalaman, jauh dari jalan raya, baik jalan yang menghubungkan Bandung dan Malangbong, maupun jalan yang menghubungkan Bandung dan Garut. Keheningan Cibatu kemudian terusik saat pemerintah Hindia Belanda datang ke kota kecil itu untuk membangun jalur KA yang menghubungkan Cicalengka dan Garut. Kota yang semula bernama Rancabatu ini menjadi kota yang ramai dengan lalu lalang kereta api dan lokomotif uap.

Dalam buku Ramadhan Di Priangan, Haryoto Kunto menyebutkan, jumlah penduduk Cibatu di tahun 1930 an berjumlah 3000 orang. Itu pun sebagian merupakan pegawai perusahaan kereta api negara atau Staatsspoorwegen (SS)[3].

Cibatu semakin ramai menjadi saat SS membuat jalur percabangan di Stasiun Cibatu menuju Warung Bandrek. Pembangunan Cibatu-Warung Bandrek menjadi awal terhubunganya daerah Priangan dengan Maos, Cilacap, dan Yogyakarta. Sejak itu, kawasan Cibatu yang berada di tengah keheningan Priangan menjadi terbuka dan ramai oleh lalu lalang kereta api yang mengangkut barang dan penumpang. Dari tahun ke tahun, jumlah kereta api yang singgah di stasiun ini dapat dikatakan meningkat.

Cibatu menjadi salah satu kota yang disinggahi oleh kereta api setelah Batavia dan Surabaya terhubung oleh jaringan kereta api. Setiap hari, dua kereta api yang menghubungkan dua kota penting di Pulau Jawa ini singgah di Cibatu di tahun 1900. Selain itu, stasiun yang ada di ketinggian 612mdpl ini melayani 6  keberangkatan kereta api lokal menuju Garut.

Tabel kereta api antar kota yang singgah di Stasiun Cibatu.

Asal Jurusan Singgah Di Cibatu
Weltevreden Maos 14.50
Maos Weltevreden 10.15

Sumber dari: Officieele Reisgids voor Spoor – en Tramwegen op Java, 5e Uitgave 1 Januari 1900 (Samarang: G.C.T. van Dorp & Co.), halaman 17 & 33.

Tabel Jadwal kereta api lokal Cibatu-Garut, tahun 1900.

No. KA 126* 44 46 48 50 52
Cibatu 06.27 08.28 10.17 11.57 14.06 15.50
Garut 07.17 09.19 11.09 12.47 14.56 16.40

Sumber dari: Officieele Reisgids voor Spoor – en Tramwegen op Java, 5e Uitgave 1 Januari 1900 (Samarang: G.C.T. van Dorp & Co.), halaman 26.

Tabel Jadwal kereta api lokal Garut-Cibatu, tahun 1900.

No. KA 43 45 47 49 127* 51 53
Garut 06.27 07.26 09.27 10.38 11.54 15.30 15.03
Cibatu 07.17 08.16 10.07 11.29 12.43 13.55 15.43

Sumber dari: Officieele Reisgids voor Spoor – en Tramwegen op Java, 5e Uitgave 1 Januari 1900 (Samarang: G.C.T. van Dorp & Co.), 27.

Karena disinggahi oleh kereta api jarak jauh, Stasiun Cibatu menjadi tempat transit bagi penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan menuju Kota Garut atau sebaliknya. Para penumpang yang turun di Cibatu dapat meneruskan perjalanan menggunakan ke kereta api yang jadwalnya sudah ditentukan atau menggunakan kendaraan lain.

Lokomotif CC50 di Cibatu. Sumber gambar: bahnbilder.de

Bagi beberapa hotel di Garut, ini merupakan peluang bagi mereka untuk memberi pelayanan terbaik kepada para wisatawan yang berkunjung ke Garut. Hotel-hotel menyediakan mobil untuk menjemput penumpang  di depan Stasiun Cibatu. Dalam buku Seabad Grand Hotel Preanger 1897-1997, Haryoto Kunto menuliskan, di tahun 1935-1940 selusin taksi dan limousine milik hotel-hotel di Garut parkir di pelataran stasiun untuk antar jemput para wisatawan mancanegara dan tamu-tamu penting yang akan bertamasya dan berlibur di Garut[4].

Bagi sebagian penumpang yang memilih untuk menggunakan kereta api ke Garut, SS menyediakan kereta api. Kereta api ini juga melayani perjalanan ke Stasiun Cikajang, setelah jalur ini dibuka di tahun 1930.

Ada beberapa kisah menarik di seputar proses transit di Stasion Cibatu. Misalnya kejadian seorang penumpang pribumi yang sedang menuju Garut tapi terbawa sampai Stasiun Warung Bandrek. Alih-alih menuju Garut, penumpang yang baru naik kereta api dua kali ini baru sadar ketika diberitahu oleh penumpang pribumi lain. Dalam kisah yang ditulis harian De Preanger Bode tanggal 7 Desember 1903 ini, kondektur yang bertugas lupa untuk memberi tahu bahwa penumpang yang terbawa itu harus turun di Stasiun Cibatu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Garut[5].

Kisah lain adalah tewasnya seorang haji di Stasiun Cibatu saat akan berganti kereta api. Ini disebabkan karena pendeknya waktu dari kedatangan kereta api jalur utama dengan keberangkatan kereta api menuju Garut.

Saat itu, Pak Haji, kita sebut saja beliau dengan nama ini, bermaksud untuk pergi ke Garut dengan membawa barang bagasi yang cukup banyak. Ketika semua barang berhasil dinaikkan, kereta api mulai berangkat. Dengan susah payah, beliau mencoba untuk mengejar kereta api. Malangnya, Pak Haji gagal untuk naik dan terjatuh di antara dua gerbong[6].

Saat ini, jika kita mengunjungi kota Cibatu saat ini, terutama stasiun Cibatu yang terletak 612 di atas permukaan laut, kita akan melihat sisa-sisa kejayaan kereta api di masa lalu. Stasiun kelas II ini pernah menjadi rumah bagi puluhan lokomotif-lokomotif bertenaga besar yang menjelajah gunung-gunung Priangan. Stasiun Cibatu, bahkan dijuluki Mecca of Mallet, karena menjadi tempat pemeliharaan lokomotif-lokomotif bertenaga besar dari awal abad 20 sampai sekitar 80-an.

Keberadaan Kereta api di Priangan adalah tentang penaklukan jalur pegunungan. Alam yang berat membuat SS mengimpor lokomotif-lokomotif bertenaga besar untuk melayani jalur di tengah Priangan. Salah satunya, adalah lokomotif dengan sistem mallet. Lokomotif ini mempunyai sistem mesin yang mampu menghasilkan tenaga besar dan cocok dipakai di daerah pegunungan.

CC 10 dan CC 50. Sumber gambar: bahnbuilder.de

Sebagai sarana pendukung stasiun dan gerak mesin-mesin penghela itu, SS membangun sebuah dipo lokomotif di Cibatu. Lalu lalang pemeliharaan sampai seratus lokomotif per hari, yang dilayani hampir 700 crew pekerja kereta api menjadi pemandangan sehari-hari stasiun Cibatu, di masa kejayaannya[7]. Karena inilah, Stasiun Cibatu terkenal dengan julukan “Mecca of Mallet”.

Sampai Desember 1970, ada sekitar 152 lokomotif uap yang tersisa di dipo utama yang tersisa di Jawa Barat dan Jakarta. Sebanyak 12 lokomotif uap disimpan di Stasiun Cibatu, dengan rincian:

  • 5 buah lokomotif CC10 (Si Kuik) dengan nomor 02, 18, 22, 23, dan 32.
  • 3 buah lokomotif CC50 (Sri Gunung) dengan nomor 01, 17, dan 30.
  • 4 buah lokomotif DD52 (Si Gombar) dengan nomor 02, 03, 07, dan 08[8].

Sayangnya, kejayaan Stasiun Cibatu perlahan memudar seiring menurunnya pamor kereta api pasca kemerdekaan dan ditutupnya jalur Cibatu-Garut-Cikajang di awal tahun 80-an. Stasiun yang menyandang sebagai stasiun kelas II berdasarkan Surat Keputusan DDKA No. 20493/BB/54, tanggal 16 Maret 1954[9] ini menjadi stasiun yang sepi. Selain rumah-rumah yang terus menua dimakan usia, Dipo lokomotif yang sampai tahun 90-an dihuni oleh berpuluh lokomotif uap itu pun kosong. Hanya tersisa satu potongan kepala lokomotif, yang menandakan bahwa dipo itu pernah menjadi rumah bagi lokomotif-lokomotif besar.

Kejayaan Cibatu sebagai daerah yang pernah sibuk dengan akivitasnya kereta apinya dikenang oleh pihak perusahaan kereta api maupun penduduk setempat dengan berbagai cara. Ada beberapa tempat yang menjadi peringatan bahwa kereta api pernah berjaya di sana, seperti tugu roda kereta di depan stasiun Cibatu, tandon untuk menyimpan air yang digunakan bagi lokomotif, dan potongan kepala lokomotif uap di dipo. Ada pula satu rumah penduduk, yang depan rumahnya dihiasi gambar lokomotif-lokomotif jaman dulu.

Keramaian di Cibatu sekarang mulai kembali menggeliat. Program pemerintah untuk mengaktifkan kembali jalur ini menjadi pemicunya. Stasiun Cibatu, yang sepi dan muram itu kini sedikit demi sedikit terbangun dari diamnya yang cukup panjang.

Gambar: bahnbuilder.de

Oleh Hevi Abu Fauzan, pecinta kereta api, penyuka Sejarah Kota Bandung, co-founder simamaung.com, aktif di media sosial Twitter dan Instagram dengan akun @pahepipa.

Baca Juga:
Kereta Api Cibatu-Garut, Reaktivasi yang Layak Dirayakan (Kereta Garut Bag. 1)

Transportasi Garut dan Priangan Tempo Dulu (Kereta Garut Bag. 2)

Dari Cicalengka, Perjuangan Melawan Ilusi (Kereta Garut Bag. 3)

Kemeriahan Pembukaan Jalur KA Cicalengka Garut (Kereta Garut Bag. 4)

Bintang Penghargaan Buat Pembuat Jalur Cicalengka-Garut (Kereta Garut Bag. 5)

Charlie Chaplin, dan Janji yang Tidak Pernah Ditepati (Kereta Garut Bag. 7)

Cisurupan, Saat Balai Besar Kereta Api Mengungsi di Masa Revolusi (Kereta Garut Bag. 8)

Cikajang, Nasib Stasiun Tertinggi di Indonesia (Kereta Garut Bag. 9)

Referensi:
[1]     Mumuh Muhsin Z.”Produksi Kopi di Priangan Pada Abad ke-19.” Paramita: Historical Studies Journal, 27 (2 (2017): 182-194.

[2]        Ingezonden, Een Aanbeveling Van Garoet, Bataviaasch Nieuwsblad (Batavia, 10 Januari 1893)

[3]     Haryoto Kunto, Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe) (Bandung: P.T. Granesia, 1996), 94.

[4]     Haryoto Kunto, Seabad Grand Hotel Preanger 1897-1997 (Bandung: PT Granesia, 1997), 11.

[5]    Slecht Ingelicht, De Preangerbode (Bandung, 7 Desember 1903)

[6]     Vreeselijk Ongeluk, De Preangerbode (Bandung, 9 Oktober 1913), 2.

[7]     Ramadhan, Adhitya, Jejak Charlie Chaplin di Stasiun Cibatu, Kompas (Jakarta, 5 September 2010), 2.

[8]     A.E. Durrant, Indonesian Steam Locomotives in Action! (Holland: Uitgeverij Elmar B.V., 1989), 28.

[9]     Tim Telaga Bakti Nusantara, Sejarah Perkeretaapian Indonesia (Bandung: CV. Angkasa, 1997), jilid 2, 217.

Tinggalkan balasan

Email anda tidak akan dipublikasi.