Cikajang, Nasib Stasiun Tertinggi di Indonesia (Kereta Garut Bag. 9)

Cikajang, Nasib Stasiun Tertinggi di Indonesia (Kereta Garut Bag. 9)

Dataran tinggi Garut merupakan kawasan yang bergunung. Beberapa gunung di antaranya seolah menjadi penjaga Kota Garut. Dari kota berjuluk Zwitserland van Java ini, kita bisa melihat jajaran gunung-gunung seperti Gunung Guntur, Cikuray, Sadakeling, Talaga Bodas, sampai Papandayan. Pegunungan ini memberi Garut banyak sekali pemandangan alam dan tanah-tanah yang subur. Tanah yang subur membuat perekonomian berbasis perkebunan meningkat pesat. Masyarakat memasarkan hasil kebunnya di pasar-pasar desa, sedangkan para pemodal mendirikan perkebunan dan pabrik-pabrik pengolah teh, terutama di bagian selatan Garut[1].

Berdasarkan Indische Staatsblad no. 204 yang dikeluarkan pemerintah tanggal 18 Maret 1921, tentang amandemen dan peningkatan anggaran pengeluaran Hindia Belanda tahun dinas 1921, untuk pembangunan dan perluasan rel dan trem di Priangan[2], perusahaan negara Staatsspoorwegen (SS) mendapatkan ijin untuk membangun jalur kereta api baru dari Garut menuju Cikajang. Tujuannya, tentu saja membuka isolasi Cikajang dan mempermudah transportasi baik penumpang maupun hasil alam.

Sepertinya, pembebasan Cikajang dari keterisolasiannya terinspirasi dari permintaan pihak-pihak swasta untuk membangun jalur kereta api ke sana. R.A. Eekhout misalnya, sudah mengantongi ijin untuk membangun jalur kereta api lewat staatsblaad nomor 6 tanggal 22 Oktober 1908. Eekhout berambisi untuk membangun rel dari Garut menuju Pameungpeuk dan Cilaut Eureun melewati Trogong, Cisurupan, Cikajang, dan Cikembar[3].

Selain itu, C. Vis juga mendapatkan konsesi yang sama untuk membangun jalur dari Kadongdong (Pelabuhan Ratu) menuju Garut[4]. Berdasarkan peraturan no. 9 tanggal 20 Agustus 1910, C. Vis mengajukan konsesi untuk membangun jalur kereta api melewati Pelabuhan Ratu, Tegal, Pamidangan, Sumber Bandung, Cibungur, Sindangbarang , Cidaun, Cikidang, Pameungpeuk, Cikembar, Cikajang, Cisurupan, dan Tarogong. Akan tetapi, konsesi yang diajukan C. Vis pun mengalami pembatalan dua tahun setelahnya. Pemerintah membatalkan konsesi tersebut karena mempunyai rencana yang serupa[5].

Sebelum jalur kereta api Garut-Cikajang dibangun, kawasan Cikajang sudah ramai karena para pengusaha khususnya dari Belanda mulai menanam investasi di sana, di akhir abad 19. Di sana, mereka mendirikan sekitar 5 perkebunan teh, yaitu di Giriawas, Cisaruni, Cikajang, Papandayan, dan Darajat. Jumlah ini meningkat di awal abad 20, ketika para pengusahan Belanda, Italia, Jerman, Inggris, dan China membuka perkebunan di Cilawu, Cisurupan, Pakenjeng, Cikajang, Cisompet, Cikelet, dan Pemeungpeuk[6].

Sebenarnya, pembangunan jalur Garut-Cikajang ini sempat menimbulkan pro dan kontra. Apalagi, terjadi kekosongan angkutan barang pasca jalur ini dibuka. Satu pihak mengatakan, bahwa jalur ini tetap berguna karena tingginya antusiasme masyarakat untuk menggunakan jasa kereta api, walaupun terjadi penurunan angkutan barang karena akibat dari lesunya ekonomi karena resesi tahun 1929. Namun, pendapat ini dibantah oleh pihak Volksraad yang tetap mengkritik pembangunan jalur Cikajang-Garut. Di luar resesi ekonomi, mereka sudah memprediksi beberapa tahun sebelumnya bahwa jalur ini tidak akan pernah menguntungkan[7].

Sebenarnya, rencana pembangunan jalur kereta api Garut Cikajang mengalami banyak revisi karena selalu dipertanyakan keuntungannya. Salah satunya adalah kemungkinan pembangunan pelabuhan di Cilaut Eureun, Pameungpeuk. Pelabuhan di kota bagian paling selatan Garut ini akan menjadi penyalur hasil bumi seperti teh, kopi, dan kina. Namun, rencana ini kemudian gagal karena menurut insinyur dari SS bernama J. W. J. BEEK, kegiatan selalu pelabuhan selalu diganggu oleh keadaan laut yang tidak stabil, seperti turbulensi dan sulitnya kapal untuk merapat[8].

Menurut Zuhdi, Cilaut Eureun merupakan salah satu pelabuhan di selatan Jawa Barat yang mempunyai hubungan dengan pelabuhan sekitar seperti Pelabuhan Ratu dan Cilacap. Pelabuhan ini tidak terlalu besar dan hanya melayani transportasi antar pantai. Komoditas yang dibongkar dan dimuat di pelabuhan ini cukup terbatas dan berskala kecil. Hal ini membuat pelabuhan di pantai selatan tidak dapat berkembang. Salah satu penyebabnya adalah perahu-perahu yang digunakan sangat bergantung pada musim angin tenggara[9]. Kondisi alam yang tidak menguntungkan di Pantai Selatan Garut membuat pemerintah tetap bersikeras untuk membangun jalur kereta api ke Cikajang.

Jalur kereta api Garut-Cikajang dibuka dengan cukup meriah. Jalur dengan panjang 23 km itu dibuka pada tanggal 1 Agustus 1930 dengan diiringi penampilan kesenian Sunda berupa gamelan dan tayub. Upacara ini dihadiri oleh perwakilan dari Gouvernement Bedrijven Bandung, Residen Priangan Timur, dan Bupati Garut. dan mampu menarik perhatian warga sekitar yang awalnya tidak tertarik dengan apa yang ditampilkan. Antusiasme warga untuk menghadiri upacara pembukaan tersebut bahkan mampu mengosongkan Pasar Cikajang hari itu[10].

Diapit dua gunung besar yaitu Gunung Papandayan dan Cikuray, Cikajang terletak di dataran tinggi. Kota yang terkenal dengan hasil perkebunannya, baik perkebunan rakyat maupun swasta ini berada di ketinggian sekitar 1245 mdpl. Dengan ketinggian tersebut, Cikajang merupakan stasiun tertinggi di Indonesia. Angka ini jauh di atas Nagreg (848 mdpl), yang sampai tahun 2019 ini menjadi stasiun aktif tertinggi di Indonesia.

Perbedaan tinggi antara Cikajang dengan Kota Garut adalah sekitar 533 meter. Ini berarti, kereta api harus naik sekitar 23 meter setiap 1 km. Untuk itulah, lokomotif pegunungan dibutuhkan untuk menaklukan jalur ini.

Dalam berita pembukaan yang tertulis di harian Bataviaasch Nieuwsblad, jalur Garut menuju Cikajang dan sebaliknya sangat atraktif sebagai perjalanan pariwisata. Di beberapa stasiun yang dibangun di antara dua kota seperti Cireungit, Kamojan, Cioyod, Bayongbong, dan Cisurupan, para penumpang akan disuguhi pemandangan yang memanjakan mata[11].

Untuk bisa menikmati pemandangan itu, para penumpang harus membayar 1,30 gulden untuk dapat duduk di gerbong kelas satu. Sementara itu, para penumpang gerbong kelas dua dan tiga khusus harus membayar 80 dan 42 sen. Harga tiket yang termurah disediakan di gerbong khusus Pribumi yang berharga 28 sen.

Dalam salah satu wawancara bersama Bapak Undang, mantan juru langsir lokomotif di Stasiun Cikajang, jurnalis Kompas menulis bahwa pemerintah dan penduduk Cikajang memanfaatkan kereta api untuk mengangkut hasil bumi seperti karet, teh, kentang, kayu mala dan kina. Disamping itu, para penduduk yang memanfaatkan jalur ini sebagai penumpang pun sangatlah banyak[12].

Di zaman perang, Stasiun Cikajang dan instalasi sekitarnya tak luput dari serangan tentara Jepang dan sempat mengalami kerusakan berat. Menurut Undang yang lahir di Cikajang di tahun 1932, saat itu Jepang kemudian memaksa penduduk untuk melakukan banyak hal sesuai keinginan mereka. Di sisi lain, mereka melarang penduduk untuk bekerja di ladang sehingga menimbulkan kelaparan. Keadaan ini berlangsung selama tiga setengah tahun sebelum Belanda kembali datang ke Cikajang dan kemudian membenahi kembali keadaan stasiun seperti semula[13].

Jalur Garut-Cikajang sayangnya hanya berusia sekitar 52 tahun saja. Di tahun 1982, pihak Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) akhirnya menutup jalur pegunungan ini. Dalam lawatan terakhir penulis ke Cikajang tahun di akhir tahun 2018, stasiun tertinggi di Indonesia ini sangat rusak keadaannya. Rel dan bantalan sudah terkubur tanah dan bangunan, juga Stasiun itu kini berada di belakang bangunan-bangunan yang berdiri di pinggir jalan raya. Di tengah perkembangan kota yang semakin ramai, stasiun ini menunggu untuk dihidupkan kembali.

Gambar: KITLV

Oleh Hevi Abu Fauzan, pecinta kereta api, penyuka Sejarah Kota Bandung, co-founder simamaung.com, aktif di media sosial Twitter dan Instagram dengan akun @pahepipa.

Baca Juga:
Kereta Api Cibatu-Garut, Reaktivasi yang Layak Dirayakan (Kereta Garut Bag. 1)

Transportasi Garut dan Priangan Tempo Dulu (Kereta Garut Bag. 2)

Dari Cicalengka, Perjuangan Melawan Ilusi (Kereta Garut Bag. 3)

Kemeriahan Pembukaan Jalur KA Cicalengka Garut (Kereta Garut Bag. 4)

Bintang Penghargaan Buat Pembuat Jalur Cicalengka-Garut (Kereta Garut Bag. 5)

Charlie Chaplin, dan Janji yang Tidak Pernah Ditepati (Kereta Garut Bag. 7)

Cisurupan, Saat Balai Besar Kereta Api Mengungsi di Masa Revolusi (Kereta Garut Bag. 8)

Referensi:
[1]     Spoorlijnen in de Preanger, Preangerbode (Bandung, 21 Mei 1920), 2.

[2]     Iman Subarkah, Sekilas 125 Tahun Kereta Api Kita 1867-1992 (Bandung: Yayasan Pusat Kesejahteraan Karyawan Kereta Api, 1992), 28.

[3]     Regeeringsalmanak voor Nederlandsch Indie 1909, Eereste Gedeelte: Grondgebied en Bevolking, Inrichting van het Bestuur van Nederlandsch-Indie van en Bijlagen (Batavia: Landsdrukkerij, tt), 430.

[4]     Regeeringsalmanak voor Nederlandsch Indie 1912, Eereste Gedeelte: Grondgebied en Bevolking, Inrichting van het Bestuur van Nederlandsch-Indie van en Bijlagen (Batavia: Landsdrukkerij, tt), 528.

[5]     Gewestelijke Zaken der Preanger, Bataviaasch Nieuwsblad (Batavia, 26 Januari 1912), 3.

[6]     Kunto Sofianto, Garoet Kota Intan (Jatinangor: ALQAPRINT, 2001), 14.

[7]     Een voorspelling die bewaarheid dreigt te worden, Bataviaasch Nieuwsblad (Batavia, 24 September 1930), 1.

[8]     J. W. J. Beek, “Eenige mededeelingen betreffende den aanleg eener normaalsporige verbinding tusschen Garoet en Tjikadjang in de provincie West-Java”, Spoor en Tramwegen, 4E Jaargang, 1E Halfjaar: 7 (31 Maret 1931), 1.

[9]     Susanto Zuhdi, Cilacap (1830-1942): Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2002), 10.

[10]   GAROET—TJIKADJANG De opening der nieuwe Spoorlijn, Bataviaasch Nieuwsblad (Batavia, 3 Agustus 1930), 1

[11]   GAROET—TJIKADJANG De opening der nieuwe Spoorlijn, Bataviaasch Nieuwsblad (Batavia, 3 Agustus 1930), 1.

[12]   Nawa Tunggal dan Try Harijono, “Undang – Juru Langsir di Stasiun Tertinggi Cikajang”, Kompas (Jakarta, 14 April 2014), 16.

[13]   Nawa Tunggal dan Try Harijono, “Undang – Juru Langsir di Stasiun Tertinggi Cikajang”, Kompas (Jakarta, 14 April 2014), 16.

Tinggalkan balasan

Email anda tidak akan dipublikasi.