Garut Pangirutan, Menunggu Akses Transportasi yang Lebih Baik (Kereta Garut Bag. 11)

Garut Pangirutan, Menunggu Akses Transportasi yang Lebih Baik (Kereta Garut Bag. 11)

Garoet, I have never visited a more pleasant and beautiful region on Java.” – Anonimous[1].

Garut Pangirutan[2], begitu Orang Garut dan Orang Priangan menyebut nama Garut, sebuah Kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Berada di tengah Priangan, Garut mempunyai modal berharga sebagai pusat pariwisata. Gunung, danau, pantai, tanah yang subur, dan budaya yang khas menjadi daya tarik bagi orang-orang untuk melepas penatnya dari kegiatan mereka sehari-hari. Tak ayal, Kota Garut dan sekitarnya memiliki banyak titik kemacetan, pada saat libur atau akhir pekan[3].

Keadaan ini tidak lepas dari nama Garut sebagai daerah tujuan wisata, bahkan sejak akhir abad 19. Berita tentang indahnya Garut tersebar di kalangan masyarakat, baik secara lisan maupun tulisan. Keadaan ini membuat Kota Garut dan daerah sekitarnya sebagai tempat wisata yang terkenal di dunia[4].

Setelah jalur kereta api dibuka di tahun 1889, Kota Garut mengalami perubahan yang cukup cepat. Sektor Perkebunan dan pariwisata menjadi dua faktor utama yang mendorong perubahan di Kota Garut dan sekitarnya. Perkembangan ini mendorong pendirian banyak hotel sebagai tempat beristirahat baik bagi para wisatawan maupun bagi pegawai perkebunan di awal abad 20. Menurut Kunto Sofianto, hotel-hotel di Garut mulai bermunculan di tahun 1917[5]. Hotel-hotel ini meliputi Hotel Papandayan, Hotel Vila Dolce, Hotel Belvedere, dan Hotel Van Hegel di dalam Kota Garut. Sementara hotel yang dibangun di luar kota di antaranya Hotel Ngamplang di Cilawu, Hotel Malayu di Tarogong, Hotel Bagendit di Banyuresmi, Hotel Kamojang di Samarang, dan Hotel Cilaut Eureun di Pameungpeuk.

Perkembangan Kota Garut memunculkan jenis lapangan baru. Masyarakat yang sebelumnya hanya mengenal pekerjaan di sektor pertanian, diperkenalkan dengan jenis pekerjaan baru seperti berdagang atau pekerjaan di sektor industri. Hal ini membuat arus urbanisasi meningkat dan membuat masyarakat Kota Garut menjadi lebih heterogen. Berdasarkan Encyclopedie van Nederlandsch-Indie, Kunto Sofianto menyebutkan bahwa penduduk Kota Garut meningkat dua kali lipat di antara tahun 1915 dan 1930[6].

Dikelilingi setidaknya oleh 5 gunung besar, Kota Garut mempunyai hawa yang sejuk dan menyehatkan. Selain itu, danau-danau besar di sekitar kota menjadi atraksi tersendiri bagi para pengunjung. Belum lagi, Kabupaten Garut mempunyai pantai beberapa puluh kilometer sebelah selatan kota. Wajarlah, jika harian umum Bataviaasch Nieuwsblad sampai memuat artikel kiriman pembacanya, yang memuji alam Kota Garut dan sekitarnya[7].

Sebagian gunung yang menjadi penjaga kota, mempunyai kawah-kawah yang bisa dikunjungi. Di sebelah barat kota, pengunjung bisa melihat Kawah Gunung Papandayan, Kawah Manuk di Darajat, dan Kawah Kamojang. Di sebelah timur, pengunjung bisa mendatangi Kawah Gunung Talaga Bodas atau Galunggung yang kini ada di bawah administrasi Kabupaten Tasikmalaya. Sedangkan Gunung Cikurai dan Guntur merupakan gunung yang menjadi tujuan wisata pendakian saja.

Selain gunung, para wisatawan bisa menikmati wisata danau-danau di Garut. Danau yang cukup terkenal adalah Situ Bagendit dan juga Danau Leles yang sekarang terkenal dengan nama Situ Cangkuang. Selesai berjalan-jalan, para wisatawan bisa beristirahat dan melepas lelah di kolam-kolam air panas yang tersedia di kaki Gunung Guntur atau di Dataran  Tinggi Darajat.

Saat ini, akses yang digunakan oleh para pejalan yang berkunjung ke Kota Garut adalah jalan raya yang melewati Nagrek. Namun, beban jalan raya dari dan ke Kota Garut terutama di masa liburan atau akhir pekan lumayan berat. Ini tercermin dari rekayasa yang biasanya dilakukan oleh petugas jalan raya di kepolisian untuk memperlancar aliran kendaraan[8].

Sebenarnya, ada beberapa jalan lain ke Kabupaten Garut yang bisa dilakukan dari Kabupaten Bandung dan berpotensi sebagai jalur wisata, seperti jalan yang melewati Puncak Cae dan melewati Perkebunan Teh Sedep. Hanya saja, keadaan jalannya masih hancur karena belum terlalu diperhatikan oleh pemerintah.

Puncak Cae adalah salah satu titik puncak pergunungan yang memanjang dari Mandalawangi menuju Papandayan. Titik puncak gunung merupakan batas administratif yang memisahkan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.

Jalan menuju Garut yang melewati Puncak Cae bisa kita ambil dari Jalan Raya Ciparay – Cibeureum melewati lembah Sungai Cihawuk. Hanya saja, mencapai Puncak Cae merupakan perjuangan tersendiri, karena setelah melewati Desa Cihawuk, kita akan berhadapan dengan tanjakan yang sangat curam.

Dalam sejarah penangkapan pemimpin gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Puncak Cae merupakan salah satu tempat yang dijadikan markas para tentara yang sedang mengejar Kartosuwiryo. Dalam satu operasi bernama Brata Yuda dengan strategi Pagar Betis, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo berhasil ditangkap di lembah antara Gunung Geber dan Gunung Rakutak, sebelah utara Puncak Cae, 4 Juni 1962.

Jalan dari lembah Sungai Cihawuk menuju Darajat merupakan jalan yang sudah ada sejak jaman kolonial. Dari sebuah peta bertarikh 1905, kita bisa melihat ada satu jalan yang menembus Puncak Cae yang berketinggian 1837 mdpl itu. Alih-alih mulus, jalan ini ternyata masih didominasi batu dan tanah.

Bagi penduduk sekitar, keberadaan jalan yang menembus Puncak Cae cukup membantu mobilitas mereka, terutama ekonomi. Mereka bisa menjangkau daerah Samarang dan kota Garut dengan lebih cepat. Sebelum akses jalan di Puncak Cae diperbaiki, mereka harus memutar turun ke Ciparay, kemudian naik lagi di Kamojang untuk mencapai kota Garut. Jalan Puncak Cae ini memangkas hampir 2 jam perjalanan mereka ke Garut.

Hal yang sama akan kita temui saat menuju Garut melalui Perkebunan Teh bernama Sedep. Jalur yang masih didominasi bebatuan dan tanah ini bisa kita capai dari jalan raya yang menghubungkan Pangalengan dan Ciparay. Jalur ini merupakan jalur wisata di masa lalu karena dibangun oleh perkumpulan Bandung Vooruit untuk mencapai Kawah Gunung Papandayan di tahun 1935. Perkumpulan ini membangun jalan sepanjang 7 km hingga mencapai titik 2300 mdpl. Dari jalur ini, kita akan mencapai titik di Jalan Raya Cikajang dan Bungbulang, Kabupaten Garut.

Saat ini, pembukaan jalur kereta api Cibatu Garut merupakan terobosan pemerintah yang patut di apresiasi. Selain buat para penduduk yang membutuhkan transportasi yang lebih baik, juga bagi para wisatawan yang ingin menuju Kota Garut dengan nyaman.

Selain itu, jalur ini bisa dijadikan jalur wisata, terutama jika jalur kereta api ini dibangun menuju Cikajang. Kereta api Cibatu Garut bisa dipakai sebagai bagian dari kereta api wisata. Contoh perjalanan berwisata menggunakan kereta ini bisa kita lihat di Stasiun Ambarawa, Jawa Tengah.

Kereta wisata ini pernah dijalankan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Perusahaan melayani sektar 30 wisatawan yang datang dari Selandia Baru untuk mengunjungi Garut dan berwisata menggunakan kereta api, Sekitar tahun 1975. Mereka menyewa kereta api wisata berupa lokomotif uap keluaran tahun 1927 dan gerbong lama keluaran tahun 1912.

Para turis menggunakan kereta sejak dari Stasiun Cicalengka menuju Cibatu, Garut, dan Cikajang. Selama perjalanan, mereka disuguhi pemandangan sungai, gunung, dan lembah khas Priangan. Setelah tiba di Cikajang yang merupakan stasiun tertinggi di Indonesia, kereta api kembali ke Garut dan para turis mengakhiri perjalanan mereka di pemandian Cipanas. Dalam berita yang dilansir dari Harian Umum Kompas, para turis mengaku senang dan terkesan dengan keramahan warga juga terkesan dengan pemandangan alam yang disajikan sepanjang perjalanan[9].

Inilah yang membuat Garut, khususnya Kota Garut membutuhkan akses yang lebih baik untuk kenyamanan pengunjung ke sana. Pembukaan kembali jalur kereta api Cibatu dan Garut ini diharapkan bisa mendorong sektor pariwisata di Kabupaten Garut. Selain bisa mengurangi beban jalan raya pembukaan jalur ini diharapkan bisa memberikan kenyamanan kepada para pejalan terutama para wisatawan saat mengunjungi Garut.

Selesai

Oleh Hevi Abu Fauzan, pecinta kereta api, penyuka Sejarah Kota Bandung, co-founder simamaung.com, aktif di media sosial Twitter dan Instagram dengan akun @pahepipa.

Baca Juga:
Kereta Api Cibatu-Garut, Reaktivasi yang Layak Dirayakan (Kereta Garut Bag. 1)

Transportasi Garut dan Priangan Tempo Dulu (Kereta Garut Bag. 2)

Dari Cicalengka, Perjuangan Melawan Ilusi (Kereta Garut Bag. 3)

Kemeriahan Pembukaan Jalur KA Cicalengka Garut (Kereta Garut Bag. 4)

Bintang Penghargaan Buat Pembuat Jalur Cicalengka-Garut (Kereta Garut Bag. 5)

Berziarah ke Mecca of Mallet (Kereta Garut Bag. 6)

Charlie Chaplin, dan Janji yang Tidak Pernah Ditepati (Kereta Garut Bag. 7)

Cisurupan, Saat Balai Besar Kereta Api Mengungsi di Masa Revolusi (Kereta Garut Bag. 8)

Cikajang, Nasib Stasiun Tertinggi di Indonesia (Kereta Garut Bag. 9)

Wacana Lama Jalur Malangbong-Cirebon (Kereta Garut Bag. 10)

Referensi:
[1]     Een Aanbeveling van Garoet, Bataviaasch Nieuwsblad (Batavia, 10 Januari 1893), 1.

[2]     Karena keindahannya di masa lalu, Kota Garut dikenal dengan banyak julukan, seperti “Swiss van Java” dan kemudian karena keindahannya dijuluki juga dengan nama “Mooi Garut” (Garut yang permai). Orang Garut atau orang Priangan pada umumnya menyebut kota Garut dengan istilah “Garut Pangirutan” (Garut Pemikat) (Kunto Sofianto, Garut Pada Masa Pemerintahan Pendudukan Jepang 1942-1945, Jurnal, Sosiohumaniora, Jurnal Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora, Volume 16, Nomor 1, Maret 2014, Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Halaman 51).

[3]     Jalur lama yang menghubungkan Garut dan Nagreg di sekitar Kadungorda dan Leles sering menjadi titik kemacetan. Polisi kerap melakukan rekayasa lalu lintas, seperti melakukan sistem buka tutup di jam-jam tertentu, dan itu tidak banyak membantu di saat puncak kemacetan terjadi. Salah satu berita yang memuat kemacetan di Garut, misalnya: Mochammad Iqbal, Garut Macet Parah, Polisi Lakukan Rekayasa Arus Lalu Lintas (Jakarta: Merdeka.com, 7 Juni 2019), (https://www.merdeka.com/peristiwa/garut-macet-parah-polisi-lakukan-rekayasa-arus-lalu-lintas.html, diakses 14 Oktober 2019)

[4]     Kunto Sofianto, Garoet Kota Intan (Jatinangor: Alqaprint, 2001), 15.

[5]     Sofianto, Garoet Kota Intan, 15.

[6]     Sofianto, Garoet Kota Intan, 17.

[7]     Een Aanbeveling van Garoet, Bataviaasch Nieuwsblad (Batavia, 19 Januari 1893), 1.

[8] Urai Macet, Polisi Berlakukan Buka Tutup di Jalur Nagreg, Detiknews, 8 Juni 2019, Link: https://news.detik.com/berita/d-4578866/urai-macet-polisi-berlakukan-buka-tutup-di-jalur-nagreg (Diakses 18 Maret 2020)

[9]     Wisataan Kiwi Coba Kereta Api Uap, Kompas, (Jakarta, 9 Juli 1975)

Tinggalkan balasan

Email anda tidak akan dipublikasi.