Gedung BPI ITB, Kuil Ilmu di Bandung

Gedung BPI ITB, Kuil Ilmu di Bandung

Tanpa desain baru, seni adalah sebuah mayat” – Winston Churchill[1].

Kutipan ini kembali disampaikan oleh ketua Perhimpunan Ilmu Alam Indonesia Prof. H. Leeman dalam pidato serah terima sebuah gedung baru di Bandung dari pihak kontraktor, April 1956.

Gedung baru yang menghadap Jalan Dago tersebut mulai dibangun bulan November 1953. Sebelum didirikan bangunan di atasnya, tanah yang berada di sudut Jalan Dipatiukur dan Jalan Surapati digunakan sebagai kebun singkong dan kebun pisang. Tanah tersebut dibeli atas kerjasama dengan Walikota dan Dewan Kota Bandung dengan syarat yang sangat menguntungkan, termasuk pembayaran biaya panen kebun yang ada di sana.

Sudut Jalan Dipatiukur dan Jalan Surapati, Bandung, tahun 1953.

Gedung tersebut akan menjadi sekretariat bagi Perhimpunan Ilmu Alam Indonesia[2] yang pindah dari sekretariat lama mereka di Koningsplein Zuid 11, Jakarta. Karena perkembangan ilmu pengetahuan yang lesu di ibukota, Profesor Dr Th HF Klompé dan WH Hoogland, sebagai sekretaris dan bendahara asosiasi memutuskan untuk menjual sekretariat lama, tahun 1951. Mereka memutuskan untuk membangun sekretariat baru di Kota Bandung.

Hasil penjualan gedung sekretariat lama, selain digunakan untuk membangun gedung baru, juga digunakan untuk memperbaiki buku-buku yang ada di perpustakaan mereka. Sekitar 60.000 buku yang mereka miliki, terlantar selama masa pendudukan Jepang dan membutuhkan perbaikan.

Bangunan ini dirancang oleh arsitek terkenal, A. W. Gmelig Meyling dari perusahaan Ingenieurs Bureau Ingenegeren Vrijburg (IBIV) yang berkantor di Bandung. Sementara perusahaan Boen Kwet Liem ditunjuk sebagai kontraktor.

Sejak didirikan tahun 1937, IBIV merupakan perusahaan yang cukup unik. Perusahaan ini melewati banyak perubahan yang berkaitan dengan politik di Hindia Belanda. Setelah kemerdekaan Indonesia, IBIV yang karyawannya sempat tercerai berai karena imperialisme Jepang kembali berkegiatan di Indonesia. Meyling yang sebelumnya ke Belanda untuk menjalani operasi di awal tahun 1946, kembali ke Indonesia tahun 1947.

Gedung Pusat Perkebunan Negara di Jakarta tahun 1955. Sekarang menjadi gedung Komisi Pemilihan Umum.

Di tengah pusaran politik yang tidak menentu di Indonesia saat itu, IBIV banyak sekali menghasilkan karya. Beberapa karya IBIV antara lain adalah kompleks pabrik kertas di Leces, Gedung Pusat Perkebunan Negara yang kini menjadi Gedung Komisi Pemilihan Umum di Jakarta, Gedung Pertemuan Bumi Sangkuriang di Bandung, dll. Total, lebih kurang 700 proyek telah dikerjakan IBIV pada periode 1936 sampai 1957.

Situasi politik jugalah yang akhirnya menghentikan aktivitas IBIV di Indonesia. IBIV akhirnya dinasionalisasi dan berganti nama menjadi “Biro Arsitek dan Insinyur Sangkuriang”, di tahun 1958.

Gedung Trapesium di Tengah Kota Bandung

Secara posisi, Gedung sekretariat Perhimpunan Ilmu Alam ini berada di posisi yang strategis. Tanah yang dibeli diyakini memenuhi persyaratan infrastruktur, yakni: terletak di tepi area perumahan dan dekat dengan kampus, juga berdekatan dengan jalan utama utama dan empat jalan sekunder.

Posisi Sekretariat Perhimpunan Ilmu Alam di sudut Jalan Dipatiukur dan Jalan Surapati Bandung.

Gedung yang menghadap Jalan Dago ini didesain dalam bentuk trapesium dan disesuaikan dengan bentuk lingkungan yang ada. Gedung ini terbagi menjadi 2 volume, yakni bangunan depan dengan fasad cekung dan bangunan belakang trapesium yang bisa menampung sekitar 300 orang.

Ruangan depan mempunyai toilet dan tangga menuju lantai atas. Lantai pertama diisi ruang pertemuan kecil dan juga ruang baca. Sedangkan lantai kedua digunakan sebagai ruang perpustakaan. Ada lift tangan yang menghubungkan ruang perpustakaan dan ruang baca. Lift ini dipakai untuk distribusi buku, yang diangkut turun dari perpustakaan di lantai dua

Sedangkan lantai tiga digunakan sebagai ruang cadangan. Selain dapat digunakan sebagai ruangan kantor, lantai ini mempunyai balkon yang bisa digunakan untuk melihat Gedung dari atas dan pemandangan ke arah timur kota Bandung.

Aula gedung sekretariat Perhimpunan Ilmu Alam.

Ruang aula dihubungkan dengan dua pintu besar dari ruang depan. Ruang ini berbentuk trapesium dengan Panjang sekitar 16 meter. Dinding bagian depan mempunyai lebar 12 meter dan  dinding bagian belakang mempunyai Panjang 18 meter.

Selain sebagai ruang pertemuan, aula ini dipakai sebagai ruang kuliah yang menggunakan slide gambar atau pemutaran film. Untuk itu, ruangan ini ditunjang oleh sistem akustik yang baik. Pengujian akustik dengan model yang diperkecil di Laboratorium Bosscha telah menunjukkan bahwa penggunaan papan di sepanjang dinding dan langit-langit akan meningkatkan distribusi suara yang baik.

Gedung sekretariat sekretariat Perhimpunan Ilmu Alam di Bandung. Sekarang menjadi Balai Pertemuan Ilmiah ITB.

Gedung ini mempunyai tampilan depan yang khas, yakni “tembok” persegi yang melengkung. Meyling menegaskan, fasad ini dibuat untuk menghalangi sinar matahari langsung masuk ke perpustakaan. Selain itu, fasad tertutup menyatu menjadi dinding persegi di sepanjang persimpangan lalu lintas di bagian depan menandai akhir dari area perumahan di bagian belakang.

Keindahan dan fungsi bangunan ini membuat Koran AID de Preangerbode menyebut Gedung yang kini menjadi difungsikan sebagai Balai Pertemuan Ilmiah Institut Teknologi Bandung ini sebagai Kuil Ilmu.

Sumber tulisan, peta, dan gambar:

Dutch Colonial Maps, Leiden University Libraries, Link: https://ubl.webattach.nl/apps/s7 (Diakses 17 Maret 2022).

Eeuwoude vereniging bezit weer ‘n eigen “tempel der wetenschap, Algemeen Indisch Dagblad De Preangerbode 03 Desember 1954.

Oplevering van het gebouw der Perhimpunan Ilmu Alam, Algemeen Indisch Dagblad De Preangerbode 10 April 1956.

The official Twitter account of Institut Teknologi Bandung, Link: https://twitter.com/itbofficial/status/1471824181457141767 (Diakses 17 Maret 2022).

van Roosmalen, P., & Hercules, M. F. (2016). Bouwen in turbulente tijden: Het werk van Ingenieurs-Bureau Ingenegeren-Vrijburg (IBIV) (1936-1957). Bulletin KNOB: Koninklijke Nederlandse Oudheidkundige Bond, 115(1), 34-50.

Kutipan:

[1] Kutipan dari Winston Chuchill kepada The Royal Academy of Arts, tahun 1953. Dapat ditemukan juga di: Andreas Sandre. 2015. Digital Diplomacy: Conversations on Innovation in Foreign Policy. London: Rowman & Littlefield. Hal. 4.

[2] Sebelumnya bernama Koninklijke Natuurkundige Vereeniging (KNV) dan berdiri sekitar tahun 1850-an.

Tinggalkan balasan

Email anda tidak akan dipublikasi.