Hotel Preanger yang Memukau Chaplin

Hotel Preanger yang Memukau Chaplin

Bandung, 30 Maret 1932, hari baru saja berganti malam, sementara angin mulai menusuk tulang. Dari kejauhan, sebuah motor membelah keheningan Jalan Raya Pos yang sudah berusia lebih dari seabad. Kendaraan yang datang dari arah barat itu melewati Alun-alun, Soceiteit Concordia, dan kemudian berbelok ke arah utara, memasuki pelataran Hotel Preanger, sekitar jam 20 lebih seperempat.

Setelah menghabiskan 6 jam perjalanan dari Batavia, para penumpang berhenti untuk beristirahat sejenak. Dua penumpang dengan pakaian perlente turun dan memasuki hotel yang baru direnovasi beberapa tahun sebelumnya. Mereka tidak mempunyai rencana untuk menginap di sana. Mereka hanya akan mandi, menikmati makan malam, dan melanjutkan perjalanan kembali ke kota sebelah timur, Garut.

Pada malam itu, dua penumpang yang ternyata Chaplin bersaudara tiba di Bandung yang mendung. Padahal, mereka baru saja sampai di Batavia siang hari. Menumpangi kapal laut “Van Lansberge” dari Singapura, Charlie dan Sydney Chaplin sempat mendapat sambuatan meriah di Tanjung Priok[1].

Kunjungan pertama mereka ke Hindia Belanda saat itu tidak berhubungan film-film yang akan dibuat. Mereka hanya ingin melihat Pulau Jawa dan Bali dari dekat[2]. Dalam kunjungannya di tahun 1932 tersebut, Chaplin mengunjungi Batava, Bandung, Garut, Jogjakarta, Surabaya, dan Bali.

Keputusan untuk mengunjungi Hindia Belanda dan Bali merupakan keputusan yang cukup mendadak. Rencana ini baru mereka diskusikan di perjalanan antara Mesir dan Jepang, beberapa waktu sebelumnya. Dua orang pelajar Amerika yang mereka temui di perjalanan mempengaruhi Chaplin supaya juga mengunjungi Jawa dan Bali.

“Tidak ada gunanya kembali ke Amerika sekarang,” kata dua pelajar itu. “Kami hanya akan bergabung dengan barisan pengangguran. Jadi kami pikir kami akan menghemat sedikit uang yang tersisa dan pergi ke Bali. Anda dapat tinggal di sana selama lima dolar seminggu,” kata mereka. “ Kata-kata ini membuat Chaplin akhirnya memutuskan diri untuk mengunjungi Hindia Belanda[3].

Mengunjungi Hotel Preanger, Charlie dan Sydney dijamu dengan cukup istimewa. Mereka menikmati suasana hotel dengan baik. Tidak ada kekisruhan seperti yang terjadi sebelumnya di Pasar Senen, ketika orang-orang di pasar mulai menganggu setelah menyadari siapa sebenarnya mereka. Kejadian itu membuat mereka bergegas meninggalkan Batavia menuju Bandung.

Hotel Preanger pada mulanya merupakan pesanggrahan kecil yang ada di tepi Jalan Raya Pos. Seiring perkembangan kota yang kian ramai, pesanggrahan ini mulai berkembang menjadi sebuah hotel. Modernisasi membuat wajah hotel kemudian berubah di akhir tahun 1920-an. Sentuhan Wolff Schoemaker menjadikan Hotel Preanger sebagai sebuah hotel modern, dengan tampilan perpaduan elegan antara budaya barat dan timur, dengan interior modern yang mengikuti perkembangan zaman.

Chaplin bersaudara beristirahat sejenak untuk membersihkan badan dan menikmati makan malam.  Apa yang disediakan di sana membuatnya terkesan, dan Charlie tidak segan melontarkan pujian. Menurut Charlie, Hotel Preanger terkesan modern dan sangat berbeda dengan hotel lainnya di Jawa.

“Kami menikmati mandi air panas dengan gaya Eropa, satu-satunya hotel di Jawa di mana Anda dapat melakukannya. Semua hotel lainnya menggunakan sistem gayung, di mana tempat mandi berupa struktur seperti sumur yang diisi dengan air yang anda tuangkan dari atas diri anda menggunakan gayung,” ujar Charlie Chaplin[4].

Di bagian lain dalam bukunya, Sydney menambahkan bahwa Hotel Preanger  merupakan satu-satunya hotel di Jawa, dimana kita bisa berbaring dalam bak mandi[5].

Selain terkesan dengan interior Hotel Preanger, Charlie pun terkesan dengan arsitektur luar hotel. Ditemani sang manajer hotel, Charlie berdiri di tengah jalan dan mengagumi keindahan hotel. Padahal saat itu, hujan sedang turun dengan derasnya[6].

Sayangnya, Chaplin tampak terburu-buru dan hanya 3 jam saja mereka berada di Bandung. Setelah merasa cukup beristirahat, mereka kembali menghela kendaraan mereka ke arah timur kota, menuju Garut.

“Saya akan kembali,” ujarnya sebelum meninggalkan Bandung[7].

Gambar: charliechaplin.com

Referensi:

[1] Charlie Chaplin te Batavia. Bataviaasch Nieuwsblad. Edisi 30 Maret 1932.

[2] Charlie Chaplin Glimlachend op Java Gearriveerd. De Locomotief. 31 Maret 1932.

[3] Lisa Stein Haven. 2014. Charlie Chaplin: A Comedian Sees The World. Columbia: University of Missouri Press. Halaman 131.

[4] Lisa Stein Haven. 2014. Charlie Chaplin: A Comedian Sees The World. Columbia: University of Missouri Press. Halaman 128.

[5] Lisa Stein Haven. 2014. Charlie Chaplin: A Comedian Sees The World. Columbia: University of Missouri Press. Halaman 184.

[6] Lisa Stein Haven. 2014. Charlie Chaplin: A Comedian Sees The World. Columbia: University of Missouri Press. Halaman 184.

[7] Charmante Charlie. De.locomotief. Edisi 1 April 1932.

Tinggalkan balasan

Email anda tidak akan dipublikasi.