Kisah Penerbangan di Hindia Belanda, dari Kalijati ke Bandung

Kisah Penerbangan di Hindia Belanda, dari Kalijati ke Bandung

“Ketika kami berjalan ke Noordwijk pada hari Sabtu sore sekitar pukul setengah delapan, kami tiba-tiba mendengar dengungan mengerikan di udara, yang pada pemeriksaan lebih dekat tampaknya berasal dari mesin terbang.[1]

Awal Penerbangan di Hindia Belanda

Penerbangan di Hindia Belanda dirintis oleh pihak militer pada tahun 1914[2]. Mereka membentuk ‘bagian percobaan di bidang penerbangan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (Proef-vliegafdeeling van het Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger atau disingkat PVA-KNIL) pada tanggal 30 Mei 1914. Bagian ini dibentuk dalam keterbatasan karena Hindia Belanda saat itu masih belum mempunyai pesawat dan lapangan udara. Ketiadaan pesawat membuat penerbangan pertama tertunda. Penerbangan militer pertama baru bisa dilakukan pada tanggal 6 November 1915 dari pantai di Tanjung Priok. Penerbangan yang menggunakan pesawat terbang amfibi ini dilakukan oleh Ter Poorten[3].

Pesawat amfibi di Tanjung Priok, pada 6 November 1915. Sumber: https://indearchipel.com

Sebelumnya, penerbangan pesawat terbang sipil pertama di Hindia Belanda dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Penerbangan ini dilakukan oleh seorang penerbang professional bernama Gijs Küller di Surabaya, tahun 1911. Dikutip dari situs In de Archipel, Kuller mendapat bayaran sekitar 40.000 gulden untuk demonstrasi penerbangan yang dilakukannya[4]. Saat itu, lapangan udara dadakan dibuat di atas lapangan sepakbola milik klub THOR. Untuk keperluan penerbangan, tribun, pagar, dan tiang gawang harus dibongkar. Selain itu, pohon di sekitar lapangan juga ikut ditebang[5].

Membuka Kalijati, Lapangan Udara Pertama di Hindia Belanda

Setelah keberhasilan Ter Poorten, pihak militer mencari tempat di darat yang dapat dipakai sebagai lapangan udara. Akhirnya sebuah daerah terpencil bernama Kalijati (sebuah kota yang sekarang berada di Kabupaten Subang) dipilih sebagai tempat untuk mendirikan lapangan udara. Walaupun sulit dicapai, tapi keberadaan lapangan udara baru mendapat pujian karena permukaan tanah yang rata dan merupakan tempat terbuka yang luas[6].

Kalijati diyakini sebagai lapangan udara pertama di Hindia Belanda. Sekarang, lapangan udara ini menjadi pangkalan bagi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) dan mempunyai nama Pangkalan Udara Suryadarma.

Kembali, Ter Poorten menjadi orang pertama yang berhasil menerbangkan pesawat dari Kalijati pada 8 Februari 1916, dengan menggunakan pesawat amfibi jenis Glen Martin TA. Pesawat ini diubah dari pesawat yang terbang dan mendarat di air, menjadi pesawat yang terbang dan mendarat di darat.

Sayangnya, Ter Poorten kemudian mengalami kecelakaan di penerbangannya yang kedua, tanggal 14 Februari 1916. Dalam penerbangan ini, ikut serta pula seorang petinggi tentara Hindia Belanda yang langsung meninggal saat terjadi kecelakaan. Sementara itu, Ter Poorten mengalami cedera parah di bagian kepala. Sebelum terjadi kecelakaan, mesin pesawat sempat mengalami kerusakan. Setelah sempat diperbaiki, mesin pesawat kembali berfungsi dan siap digunakan. Pesawat mengalami kecelakaan setelah dua menit tinggal landas dari landasan dan mencapai ketinggian 75 meter[7].

Kalijati dan Great Air Race 1919

Lapangan udara Kalijati menjadi lapangan udara yang strategis karena digunakan oleh ‘Bagian Udara’ untuk mendidik calon-calon penerbang. Karena kebutuhannya, landasan pacu Kalijati kemudian diperpanjang menjadi sekitar 1400 meter di tahun 1917[8].

Nama Kalijati tidak hanya terkenal di Pulau Jawa saja, bahkan lapangan udara pertama di Hindia Belanda ini menjadi tempat transit bagi perlombaan udara, The Great Air Race 1919 yang menghubungkan London dan Australia. The Great Race edisi tahun 1919 diikuti oleh 6 pesawat, yakni: Sopwith Wallaby, Vickers Vimy, Alliance P.2, Blackburn Kangaroo, Martinsyde Type A, dan Airco DH.9[9].

Vickers Vimy, bomber dua mesin yang memenangkan lomba udara dari Inggris ke Australia, 1919. Sumber: www.awm.gov.au

Lomba ini merupakan lomba balap pesawat berhadiah sekitar 10.000 dolar Australia. Dari keenam pesawat tersebut, hanya pesawat Vickers Vimy yang berhasil menyentuh garis finish di Kota Darwin, Australia, 10 Desember 1919[10]. Dalam perjalanannya, Vickers Vimy melakukan transit di Kalijati, 6 Desember 1919. Kedatangan pesawat yang ditukangi Ross Smith dan saudaranya ini disambut oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, van Limburg Stirum yang sengaja datang ke Kalijati.[11].

Rancaekek, Mencari Lapangan Udara Baru di Bandung

Kecelakaan yang menimpa Ter Poorten membawa nama baru di dunia penerbangan Hindia Belanda, yakni Kapten Engelbert Van Bevervoorde. Penerbang yang juga merupakan lulusan Soesterberg ini menggantikan posisi dan peran Ter Poorten di satu komisi yang dikirim ke Amerika Serikat untuk membeli 12 buah pesawat Glen Martin di Los Angeles. Aktifitas Ter Poorten di Amerika Serikat sebagai anggota komisi, terhenti karena harus kembali menjalani perawatan kesehatan.

Selanjutnya, Van Bevervoorde kemudian menjadi instruktur kepala di Sekolah Terbang di Kalijati pada tahun 1917. Di tahun ini pula, Bagian Udara mulai melirik Bandung. Dikutip dari In de Archipel, demonstrasi dan penerbangan pengintaian mulai diadakan. Ini dilakukan untuk melihat ‘apa yang mungkin’ dalam penerbangan. Sebagai contoh, bahwa terbang di atas pegunungan di daerah tropis diperkirakan tidak akan mungkin dilakukan. Tetapi pada bulan Juli 1917, van Bevervoorde terbang beberapa kali di atas gunung berapi Tangkuban Perahu dekat Bandung[12].

Untuk melakukan aktifitas tersebut, Van Bevevoorde mencoba untuk membangun lapangan udara pertama di Bandung, tepatnya di Rancaekek di tahun 1917.

[1] Een Vliegmachine Boven Batavia. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie. 08-11-1915

[2] Dr. J. Sroomberg. (2018). Hindia Belanda 1930. Halaman 424.

[3] Het vijfde wapen. De Sumatra Post. 09-11-1915

[4] Het Begin van de Luchtvaart in Nederlands-Indie. (2018). In de Archipel. Link: https://indearchipel.com/2018/01/17/begin-luchtvaart-indie/ (Diakses 26 Maret 2022)

[5] De Soerabaiasche vliegweek. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie. 07-03-1911

[6] Overland Vluchten. De Preanger-bode. 12-02-1916

[7] Het vlieg-ongeluk.De Preanger-bode. 15-02-1916

[8] Onze aviatiek.De.Preangerbode.17.01.1917

[9] The 1919 Great Air Race. Link: https://epicflightcentenary.com.au/the-1919-air-race/ (Diakses: 26 Maret 2022)

[10] The 1919 Great Air Race. Link: https://epicflightcentenary.com.au/the-1919-air-race/ (Diakses 26Maret 2022)

[11] Ross Smith Near Arrival in Java Three Days From Darwin. Australian Press Association. 7 Desember 1919. Link: https://trove.nla.gov.au/newspaper/article/4641224 (Diakses 26 Maret 2022)

[12] Vliegnteuws. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie.07-07-1917

Tinggalkan balasan

Email anda tidak akan dipublikasi.