Pemindahan Ibukota Priangan 1864

“Halo-Halo Bandung, Ibukota Periangan…”

Dalam potongan lirik lagu Halo-Halo Bandung, kita akan menemukan kalimat yang menunjukkan Bandung sebagai Ibukota Priangan. Priangan merupakan satu Karesidenan yang berada di Pulau Jawa bagian barat. Sebelum Bandung, Kota Cianjur menjadi ibukota Priangan sampai pertengahan abad 19.

Ibukota Priangan mengalami perpindahan di tahun 1864. Pemerintah kolonial Hindia Belanda memilih Kota Bandung sebagai pengganti. Perpindahan ini menjadi salah satu aspek yang mendorong Kota Bandung menjadi kota penting dan besar seperti sekarang.

Perpindahan Ibukota ini didorong oleh gagasan Residen Priangan C.P.C. Steinmetz. Saat itu, Residen yang bertugas dari tahun 1851 sampai 1855 itu tinggal di kantor karesidenan dan tidak mempunyai rumah dinas. Residen mempunyai usul, untuk memindahkan pusat Karesidenan Priangan ke Kota Bandung dibanding dibuatkan sebuah rumah dinas di Cianjur.

Beberapa alasan memperkuat Bandung dinilai layak menjadi Ibukota Karesidenan Priangan. Mengutip dari dokumen Ministerie van Kolonien, 28 Juni 1856, Sejarawan Sobana Hardjasaputra menulis setidaknya ada 5 alasan mengapa Bandung layak menggantikan Cianjur. Pertama, suhu udara kota Bandung lebih menyenangkan dibanding suhu udara Kota Cianjur. Kedua, Letak srategis Kota bandung yang ada di tengah Priangan . Keadaan ini ditunjang keberadaan jalan-jalan yang teah menghubungkan Bandung dengan daerah lain. Ketiga, jumlah penduduk Kota Bandung lebih banyak dibanding jumlah penduduk di Cianjur. Keempat, daerah Bandung kaya akan kopi dan Padi. Kelima, kehidupan ekonomi di Bandung cukup berkembang dan menunjukkan prospek lebih baik.

Gedung Karesidenan Priangan, Gedung Pakuan sekarang, berada di ujung utara Jalan Oto Iskandar Dinata, Bandung.

Usul ini sempat menjadi perbincangan di pemerintahan pusat Hindia Belanda. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, sehingga pembicaraan wacana perpindahan ini berlangsung cukup lama. Salah satunya berkaitan dengan masalah keuangan, karena selain memindahkan pemerintahan, pemerintah pusat harus menyiapkan infrastruktur sebagai penunjang kinerja pemerintah di ibukota yang baru.

Kebutuhan atas biaya yang besar sempat menghalangi rencana tersebut. Meskipun Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud menyetujui pemindahan ini di tahun 1856. Namun, proses pemindahan tidak juga terlaksana, sampai Cianjur terkena bencana besar.

Gunung Gede. Gambar oleh Franz Wilhelm Junghuhn, dari Java-Album. Leipzig, Arnoldische Buchhandlung.

Pada tahun 1864, Cianjur dilanda bencana karena Gunung Gede meletus. Meletusnya gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi ini membuat Kota Cianjur rusak berat. Peristiwa ini membuat Residen Priangan memunculkan usulan lama yakni memindahkan ibukota ke Bandung. Pemindahan ini akan memindahkan sekitar 27 orang termasuk Residen C. der Moore dan pegawainya, arsip-arsip, dan perlengkapan lainnya. Usulan ini disetujui oleh Gubernur Jenderal Sloet van de Beele dengan surat keputusan bertarikh 7 Agustus 1864 yang berisi penunjukkan Kota Bandung sebagai Ibukota karesidenan Priangan menggantikan Kota Cianjur. Surat keputusan ini disetujui oleh Menteri Jajahan, sehingga Residen dan rombongannya bisa pindah ke ibukota yang baru, Bandung.

Sarana pertama yang dibangun di Kota Bandung adalah sebuah sebuah gedung megah di daerah Kampung Bogor, berjarak sekitar 1 km dari Alun-Alun Bandung. Gedung yang merupakan bangunan modern pertama di Kota Bandung ini selesai dibangun pada tahun 1867. Gedung ini sekarang bernama Gedung Pakuan, berada di ujung utara Jalan Oto Iskandar Dinata dan dipakai sebagai rumah dinas Gubernur Jawa Barat.

Perpindahan ibukota karesidenan membuat wajah kota Bandung perlahan berubah. Gedung-gedung baru nan modern mulai dibangun di sana. Orang-orang Belanda pun mulai berdatangan mengembangkan dan meramaikan Kota Bandung, Ibukota Priangan.

Referensi:
Hardjasaputra, Sobana. 2002. Perubahan Sosial di Bandung 1810-1906. Disertasi. Depok: Program Pascasarjana, Fakutas Sastra Universitas Indonesia.

Sumber gambar: KITLV

Leave a Reply

Your email address will not be published.