Rancaekek, Lapangan Udara Perintis di Bandung

Rancaekek, Lapangan Udara Perintis di Bandung

Setelah mendirikan lapangan udara di Kalijati, Proefvliegafdeling (PVA/divisi uji terbang) mencari tempat yang baru. Bandung menjadi target pendirian tempat berlatih para penerbang. Selain disediakan sebagai sekolah untuk pilot-pilot baru, penelitian terhadap udara di atas pegunungan menjadi pendorong berdirinya lapangan udara di kawasan Cekungan Bandung.

Kawasan landai Rancaekek kemudian terpilih sebagai tempat untuk lapangan udara. Rancaekek merupakan satu tempat yang berjarak sekitar 25 km arah timur dari Kota Bandung. Walaupun ada di tempat terpencil, Rancaekek mempunyai stasiun kereta api yang menjadi tempat transit bagi pengguna kereta api yang akan menuju Sumedang dan Cirebon. Di Rancaekek, satu lahan seluas 40 bouw[1], disiapkan untuk membangun sebuah lapangan udara[2]. Pihak PVA mendapat hak menggunakan lahan di sana sampai tanggal 14 Oktober 1917[3].

Rancaekek dan Sekitarnya. Sumber: Leiden University Libraries

Rancaekek, Daerah Banjir

Pemilihan lahan di Rancaekek ternyata mendatangkan masalah baru karena kawasan ini sering dilanda banjir. Hal ini dikeluhkan oleh Komandan divisi terbang, Mayor Visscher kepada pihak dinas pengairan. Menurutnya, kondisi Rancaekek saat tergenang hanya cocok dipakai sebagai lapangan udara untuk pesawat amfibi. Saking kesalnya, Visscher menyebut Rancaekek lebih cocok sebagai tempat pengembangbiakan ikan mas[4].

Meski kerap basah karena selalu diguyur hujan dan dilanda banjir, proses perataan tanah untuk lapangan udara sementara terus dilakukan. Pihak divisi uji terbang berharap lapangan udara bisa digunakan saat musim kemarau[5].

Salah seorang koresponden surat kabar De Preanger Bode mengatakan, pemilihan Rancaekek sebagai tempat untuk lapangan terbang merupakan akumulasi dari banyak kesalahan. Pertama, tidak ada koordinasi antara pihak militer dan dinas pengairan tentang lokasi yang dipilih. Kedua, pembangunan lapangan udara tetap dilakukan di Rancaekek meskipun tempat tersebut kerap dilanda banjir. Tidak ada usaha untuk menaikkan permukaan tanah atau bahkan mencari tempat alternative baru[6].

Akan tetapi, kondisi ini tidak menggoyahkan divisi ini untuk terus melakukan pembangunan di Rancaekek di tengah hujan dan banjir yang terus melanda. Di akhir bulan Mei 1917, sebuah pesawat bahkan tenggelam di dalam lumpur. Orang-orang terus merasa pesimis atas keberadaan lapangan terbang di sana[7].

Di tengah kondisi Rancaekek yang terus tidak membaik, pihak badan terbang telah menemukan tempat yang baru untuk dijadikan lapangan udara. Tempat baru tersebut ada di Sukamiskin, sebuah desa dekat Jalan Raya Pos, dan berjarak 5 pal dari Kota Bandung. Karena merasa cocok, Kapten Jan Engelbert Van Bevervoorde langsung mengurus administrasi untuk bisa membangun lapangan udara lain di Sukamiskin[8].

Akhirnya, perbangan pertama dari Rancaekek akhirnya bisa dilakukan oleh van Bevervoorde, 6 Juni 1917 pagi hari.  Menurut penuturan koran Preangerbode edisi sore, pesawat  diterbangkan sekitar 1500 meter di atas permukaan tanah dan menyita perhatian Urang Bandung. Penerbangan ini bisa dilakukan karena Rancaekek sedang tidak diguyur hujan selama 8 hari[9].

Penerbangan selanjutnya di atas Kota Bandung kembali menarik perhatian penduduk, 11 Juni 1917. Pesawat yang dijalankan van Bevervoorde  mengitari kota dan disambut dengan meriah oleh penduduk di bawahnya. Karena cuaca mendung, pesawat hanya terbang selama satu jam saja[10].

Ilustrasi, Pesawat Glenn Martin tipe TT, sumber: Majalah Spinner, No. 52, April 2014.

Penerbangan Pertama di Atas Pegunungan

Salah satu tujuan pembuatan landasan udara di Bandung adalah untuk meneliti gerakan udara di atas pegunungan Tangkuban Perahu. Tetapi, usaha ini tidak berjalan dengan mulus. Penerbangan terakhir van Bevervoorde untuk mencapai Tangkuban Perahu terhalang oleh awan mendung.  Penerbang kelahiran 1881 ini tidak mau mengambil resiko karena pesawatnya tidak dilengkapi oleh kompas dan memutuskan kembali ke Rancaekek[11].

Kegagalan usaha van Bevervoorde untuk menaklukan udara di atas Tangkuban Perahu membuatnya berinisiatif untuk terbang dari Kalijati. Ditemani oleh Hilgers seorang ahli mesin, penerbangan selama kurang dari 2 jam ini melintasi Cileunca, Padalarang, dan Cimah menuju Bandung. Di sana pesawat berbelok ke arah utara dan terbang di atas kawah Tangkuban Perahu dan langsung kembali ke Kalijati[12].

Keberhasilan ini membuktikan bahwa penerbangan di atas pegunungan yang ada di Bandung utara bukanlah suatu masalah. Keberhasilan menembus udara di atas Tangkuban Perahu membuat Van Bevervoorde bersemangat untuk mengulangi penerbangan lainnya.

Kesempatan kedua datang pada tanggal 7 Juli 1917. Penerbangan ini memakai pesawat yang lebih besar yakni Glen Martin tipe R bertenaga 125 HP. Pesawat jenis ini sebenarnya kurang cocok dipakai di Rancaekek karena terlalu berat sehingga beberapa kali tenggelam ke dalam tanah. Berbeda dengan penerbangan pertama sebelumnya, jalur yang dilalui penerbangan kali ini memutar dari Bandung, Cimahi, Padalarang, Darangdan, mendekati Purwakarta dan belok ke Kalijati. Dari sana, pesawat kembali ke selatan melalui Sagalaherang kemudian Lembang, sebelum ke Rancaekek. Dalam penerbangan ini, ada angin timur yang dingin dan kuat, serta remous[13] di dataran rendah[14].

Kawah Gunung Tangkuban Perahu, tahun 1934. Sumber: https://geheugen.delpher.nl/

Penerbangan Terakhir di Rancaekek

Kesuksesan van Bevervoorde menaklukkan udara di atas Tangkuban Perahu seolah menjadi tanda bahwa keberadaan lapangan udara di Rancaekek akan segera berakhir. Surat kabar Preangerbode menyebut, bahwa kontrak lapangan udara yang mempunyai landasan utara selatan itu akan berakhir tanggal 14 Oktober 1917[15].

Di hari-hari terakhir, Rancaekek masih digunakan sebagai tempat untuk berlatih penerbangan dan juga pengamatan di udara sekitar Kota Bandung. Hari Sabtu, 13 Oktober merupakan kegiatan terakhir penerbangan[16] di lapangan udara yang keberadaannya kini masih belum diketahui itu.

Featured Image: ilustrasi, Pesawat Glenn Martin tipe R8, sumber: Majalah Spinner, No. 52, April 2014.

Referensi:
[1] Bouw dialihbahasakan menjadi bahu atau bau (Sunda). Satuan ini dipakai dalam menghitung luas lahan/tanah, terutama di Pulau Jawa. Satu bouw berarti sekitar 7000-7400 meter persegi. Sumber: Bahu (agraria), Link: https://id.wikipedia.org/wiki/Bahu_(agraria)
[2] De militaire vliegdienst. Deli courant. 31-03-1917
[3] Vliegnieuws. De Preanger-bode. 05-10-1917
[4] Landingsterrein gezocht. De Preanger-bode. 11-04-1917
[5] Javanieuws. Deli courant. 18-04-1917
[6] Het Vliegterrein te Rantjaekek en Nog Iets. De Preanger-bode. 11-05-1917
[7] Vliegterrein. De locomotief. 29-05-1917
[8] Vliegnieuws. De Preanger-bode. 29-05-1917
[9] Een Vlieger Boven Bandoeng. De Preanger-bode (Avond editie). 06-06-1917
[10] In de wolken. De Preanger-bode. 11-06-1917
[11] In de wolken. De Preanger-bode. 11-06-1917
[12] Over de Bergen. De Preanger-bode (Avon Editie). 23-06-1917
[13] Gerak udara vertikal dan berputar secara tiba-tiba.
[14] Tweede vlucht over’de bergen. De Preanger-bode. 07-07-1917
[15] Vliegnieuws. De Preanger-bode (Avond editie). 05-10-1917
[16] Onze vliegerij. De Preanger-bode (Avond editie). 11-10-1917

Tinggalkan balasan

Email anda tidak akan dipublikasi.