Sejarah Singkat Lahirnya Kota Bandung

Sejarah Singkat Lahirnya Kota Bandung

Tanggal 25 September merupakan hari lahir Kota Bandung. Tanggal ini merujuk pada surat keputusan peresmian kota yang ditandatangani Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels di tahun 1810. Kota Bandung merupakan kota yang baru untuk menggantikan Ibukota Kabupaten Bandung yang lama, Krapyak. Kota yang berpusat di pendopo dan alun-alun ini pada mulanya merupakan hutan dan beberapa desa-desa kecil di dalamnya.

Pendirian kota Bandung didorong oleh pembangunan jalan raya pos antara Anyer dan Panarukan yang dimulai tahun 1808. Saat itu Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mendapat perintah untuk mempertanakan Pulau Jawa dari serangan Inggris. Selain itu, jalan ini bertujuan untuk memudahkan pengangkutan hasil bumi di Pulau Jawa.

Pembangunan jalan ini melewati Kabupaten Bandung di pertengahan tahun 1808. Sayangnya, jarak antara jalan ini dengan Krapyak sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Bandung adalah 11 km.

Bentang jarak yang cukup jauh ini membuat Daendels menginginkan supaya sebuah kota berdiri di dekat jalan yang ia bangun. Dalam satu inspeksi ke jembatan Ci Kapundung, Jenderal kepercayaan pemimpin Perancis Napoleon Bonaparte di awal abad 19 itu menancapkan tongkatnya beberapa puluh meter di sebelah timur jembatan, seraya berkata: “Usahakan, jika saya kembali ke sini, sebuah kota sudah berdiri.”

Daendels ternyata serius dengan keinginannya itu. Tanggal 25 Mei 1810, dia mengeluarkan surat perintah untuk memindahkan Ibukota Kabupaten Bandung dari Krapyak ke dekat Jalan raya Pos, ke tempat yang ia pernah tancapkan tongkat.

Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Balanda 1808-1811. (Pelukis Raden Saleh, 1838, Koleksi Rijksmuseum.)

Pembangunan Jalan Raya Pos ini dimanfaatkan Bupati untuk memindahkan kegiatannya ke arah utara. Bupati Kabupaten Bandung memandang perlu untuk memindahkan ibukota dari Krapyak Karena saat itu, Krapyak sudah tidak layak dipertahankan menjadi ibukota karena kondisi alamnya yang tidak mendukung. Di awal abad 19, Krapyak masih berupa hutan belantara yang diselingi ranca (payau dan rawa) dan situ (danau-danau kecil). Karena berada di dataran rendah dan dekat dengan sungai Ci Tarum, Krapyak kerap diterjang banjir. Selain menganggu kinerja pemerintahan, kondisi ini sering menimbulkan wabah penyakit.

Bupati R.A. Wiranatakusumah II sebagai Bupati Bandung dan jajarannya mencoba untuk mencari tempat yang cocok untuk dijadikan ibukota. Mereka mencari ke arah utara kabupaten yang lokasinya lebih tinggi dibanding Krapyak. Selain supaya menjauh dari Krapyak, pemindahan ini membuat Bupati lebih mudah mengawasi masyarakatnya yang ikut membantu membangun jalan raya. Dalam pencariannya, Bupati dan bawahannya sempat menempati daerah Cikalintu (ujung utara Jalan Cipaganti sekarang), Balubur Hilir, dan Kampung Bogor (sekitar Gedung Pakuan sekarang). Pencarian ini tidak mendatangkan hasil, karena tempat-tempat yang dikunjungi dirasa kurang cocok dijadikan ibukota.

Akhirnya, Wiranatakusumah II memilih lokasi yang menjadi pendopo dan alun-alun sekarang sebagai pusat pemerintah bagi ibukota kabupaten yang baru. Pemilihan lokasi ini mengikuti kepercayaan tradisional Sunda yang menyarankan supaya ibukota pemerintahan tidak jauh dari sumber air.

Dalam kepercayaan masyarakat tradisional Sunda, dasar pemilihan sebuah pusat pemerintahan harus seperti “garuda ngupuk, bahe ngaler-ngetan, deukeut pangguyangan badak putih” yang berarti ”burung garuda mengibaskan sayapnya di tanah, landai ke arah timur laut, dekat kubangan badak putih”. Makna ungkapan ini adalah, lahan untuk ibukota harus baik dari berbagai segi, baik letak maupun kondisi dan potensinya serta dekat dengan sumber air. Atas dasar kepercayaan ini, Bupati mendirikan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung di tempat yang kini bernama Pendopo.

Di sekitar pendopo, Bupati beserta masyarakat membangun Alun-Alun yang dilengkapi Masjid Agung di sebelah barat, dan Bale Bandung di sebelah timur, dan kemudian pasar. Berdirinya pusat pemerintahan Kabupaten Bandung juga disertai pembukaan beberapa kampung di sekitar Pendopo. Pendirian pusat pemerintahan ini menandai berdirinya sebuah kota yang baru. Kota yang diresmikan tanggal 25 September 1810, dengan menggunakan nama yang sama dengan nama kabupatennya, Bandung.

Tulisan ini merupakan rangkuman dari Disertasi yang ditulis Sobana Hardjasaputra yang berjudul “Perubahan Sosial di bandung 1810-1906”.

Tinggalkan balasan

Email anda tidak akan dipublikasi.