Stasiun Rancaekek dan Percakapan Pertama Dengan Belanda

Mr. de Haas, I believe we can be satisfied!![1]

Karena alasan teknis, stasiun radio penerima di Cangkring harus dipindahkan. Dengan jarak sekitar 10 km, lokasi stasiun radio yang didirikan tahun 1917 itu terlalu dekat dengan Stasiun Malabar. Rancaekek menjadi lokasi yang dipilih untuk mendirikan stasiun penerima yang baru.

Rancaekek merupakan kawasan terbuka dan jauh dari gunung dan perbukitan. Sebelumnya, pemerintah mempunyai banyak kandidat lokasi pengganti Cangkring. Mereka mengkaji lokasi seperti Indramayu, Weltevreden, Cianjur, Garut, dan Cisurupan. Pilihan jatuh ke Rancaekek karena selain ada di kawasan landai dan terbuka, juga karena lokasinya yang masih berada di Bandung.

Secara resmi, stasiun Cangkring dipindahkan ke Rancaekek pada tahun 1925. Sebenarnya, perusahaan mendirikan 2 stasiun pengganti saat itu. Selain di Rancaekek, mereka mendirikan stasiun radio penerima di Padalarang. Karena stasiun radio penerima Rancaekek bisa menerima sinyal dari arah manapun, stasiun di Padalarang hanya beroperasi sekitar satu setengah tahun saja.

Meskipun stasiun radio di puncak Malabar diresmikan tahun 1923, hubungan antara Hindia Belanda dan Belanda melalui suara baru bisa direalisasikan tahun 1927. Hubungan kedua “negara” ini dilakukan untuk pertama kalinya tanggal 22 September pukul 10 malam sampai 1 dini hari. Pada awalnya, kedua gelombang yang dikirim masing-masing dari Malabar dan Kootwijk belum stabil. Stasiun Malabar memberi tanda dengan terus memutar lagu-lagu dari piringan hitam. Sedangkan dari Kootwijk terus memanggil dengan dengan kata-kata: Halo Malabar! Di sini Amsterdam! Kami sekarang berbicara melalui pemancar gelombang pendek Kootwijk!…[2]

Setelah terus mencoba, kedua kawasan akhirnya bisa tersambung melalui saluran telpon. Yang beruntung bisa mencoba hubungan telepon bersejarah itu adalah pegawai Dinas Pos, Telegraf, dan Telepon, De Haas. Saat itu, De Haas berbicara dengan Tuan Boetje, pimpinan telegraf di Den Haag. Setelah itu, De Haas yang berposisi di Rancaekek juga berhasil menghubungi orang tuanya di Sneek[3].

Keberhasilan ini menjadi tonggak dihubungannya kedua “negara” dengan menggunakan telepon. Beberapa bulan setelahnya, layanan telepon mulai dibuka dan digratiskan sebagai bentuk promosi bagi masyarakat. Tepatnya tahun 1929, layanan telepon komersil diresmikan oleh Ratu Emma. Hubungan telepon ini menjadi lembaran baru pola komunikasi antara Belanda dan negeri jajahannya.

Referensi:
[1] Malabar—Kootwijk Bataviaasch nieuwsblad 23-09-1927
[2] Malabar- Kootwijk De Indische courant 26-09-1927
[3] Een kruisgesprek Kootwijk-Malabar Deli courant 23-09-1927

Leave a Reply

Your email address will not be published.