Vlugge Vier, Kereta Cepat Bandung-Batavia

Saat ini, pemerintah sedang menggenjot proyek kereta api cepat yang menghubungkan Bandung dan Jakarta. Dalam berita terakhir, penyelesaian proyek dengan nama Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) ini dipredisksi molor karena kesulitan keuangan[1]. Kegiatan untuk mempercepat hubungan kedua kota sudah ada di masa kolonial. Di tahun 1930-an, orang-orang Belanda meluncurkan rangkaian kereta api cepat yang menghubungkan dua kota.

Di tahun 1934, perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS) meluncurkan rangkaian kereta api cepat antara Bandung dan Batavia dengan nama “Vlugge Vier” (Si Empat Cepat). Rangkaian kereta api ini melayani kedua kota yang berjarak sekitar 175 km dalam waktu tempuh 2 jam 45 menit, melewati Karawang, Cikampek, dan Purwakarta.

Sebelumnya, kedua kota dilayani oleh kereta api ekspress yang memakan waktu tempuh sekitar 3 jam 40 menit. Salah satu hal yang menyebabkan lamanya perjalanan adalah adanya pergantian lokomotif setiap kereta api akan memasuki jalur pergunungan Priangan. Pergantian lokomotif pegunungan ini dilakukan di Purwakarta dan Padalarang. Selain berhenti di dua kota tersebut, kereta api berhenti di Stasiun Plered untuk pengisian air[2].

Oegema[3] menjelaskan, kesan murah tapi tidak murahan dibentuk oleh SS melalui kehadiran kereta api Vlugge Vier ini. Di tengah masyarakat, citra perusahaan kereta api miik negara ini tengah merosot. Masyarakat sering menjuluki SS dengan ungkapan “Slow and Sure” atau dalam bahasa melayu “Selemenja Susah”.

Iklan Vlugge Vier di Surat Kabar “De Locomotef”, 29 September 1934.

Di masa itu, kereta api tidak lagi menjadi primadona karena menjadi penguasa satu-satunya transportasi antar kota di Pulau Jawa. Kemunculan teknologi mobil dan pesawat penumpang mengancam posisi kereta api karena masyarakat menjadi punya pilihan alternatif untuk bepergian.

Dalam artikelnya, De Koerir menulis, persaingan mendapatkan hati masyarakat menjadi faktor yang mendorong munculnya Vlugge Vier. Perusahaan kereta api berusaha untuk tetap melayani konsumennya dengan baik, di tengah persaingan antara kereta api dengan mobil dan pesawat terbang[4].

Penerbangan lokal di Hindia Belanda menjadi alternatif perjalanan setelah perusahan penerbangan Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM) berdiri di tahun 1928. Perusahaan ini melayani rute-rute penerbangan di Hindia Belanda, termasuk rute Batavia dan Bandung. Di tahun 1930-an, ada 3 pesawat yang melayani rute antara kedua kota. Pesawat-pesawat tersebut selalu dipenuhi oleh penumpang dan menjadi saingan yang berat bagi SS. Selain itu, faktor gengsi membuat orang lebih memilih naik pesawat dibanding kereta api saat itu[5].

Menurut laporan dalam “Een Jaar Luchtverkeer (Ontleend aan de Luchtvaartgids 1930)”[6], singkatnya waktu yang dibutuhkan antara Bandung dan Batavia memungkinkan orang-orang untuk mengirim barang melalui jasa pesawat. Dalam laporan penerbangan tahun 1930, koran dan tanaman menjadi barang terbanyak yang dikirim dari Bandun. Dengan waktu tempuh sekitar 45 menit, bunga-bunga yang berasal dari Bandung sudah tersedia di gerai-gerai tanaman pada  jam 9 pagi di Batavia.

Lokomotif C2821, merupakan lokomotif C28 yang masih tersisa. Lokomotif sejenis pernah menarik rangkaian KA Vlugge Vier sejak 1934. Lokomotif tersisa ini menjadi koleksi di Museum Ambarawa. Sumber foto: heritage.kai.id

Langkah SS untuk membuat rangkaian kereta api yang cepat antara Bandung dan Batavia dimulai dengan menambah kecepatan kereta dan mengefisiensikan waktu. Mereka mempunyai lokomotif seri 2C2 kelas 1300  yang cocok untuk bekerja baik di jalur datar maupun di jalur pegunungan[7]. Lokomotif ini dikenal juga dengan lokomotif C28.

Selain cepat, waktu yang dibutuhkan akan lebih singkat karena rangkaian kereta api tidak perlu lagi berhenti di Purwakarta dan Padalarang. Ini membuat biaya operasional tidak terlalu mahal dibanding rangkaian sebelumnya. Vlugge Vier akan menjadi rangkaian yang cepat dan murah. Hal ini memberi dampak pada penghematan sehingga meskipun kecepatan meningkat, biaya operasional tidak akan lebih tinggi dari sebelumnya. Transportasi kereta api ini akan menjadi cepat dan murah[8].

Melalui Vlugge Vier, SS juga mengincar ceruk pasar penumpang tujuan Bandung yang turun di Tanjung Priok setelah melakukan perjalanan memakai kapal laut. SS ingin supaya mereka bisa langsung menuju Bandung tanpa terlebih dulu menunggu di Batavia. Para penumpang ini sudah diangkut memakai Vlugge Vier kendati rangkaian ini masih dalam tahap percobaan[9].

Bandung memang menjadi tempat favorit bagi warga Batavia. SS melihat hal tersebut sebagai peluang untuk menjaring penumpang yang ingin bepergian ke Bandung dan sebaliknya di hari yang sama. Mereka adalah penumpang yang hanya ingin merasakan kesegaran udara Kota Bandung tanpa harus menyewa hotel di sana[10].

Persiapan yang matang dilakukan SS sebelum peluncuran kereta api cepat ini. De Locomotief[11] menulis, perusahaan kereta api melatih para masinis selama beberapa bulan sebelum benar-benar mahir dalam membawa rangkaian kereta cepat di antara kedua kota. SS ingin menerapkan prinsip “safety first” dalam pelayanannnya tersebut.

Persiapan lainnya adalah memperkenalkan rangkaian VV dan keunggulannya ke masyarakat. Untuk menjangkau khalayak luas, SS memanfaatkan slot promosi di bioskop-bioskop, sekiar sebulan sebelum kereta api ini diluncurkan[12].

Dalam tulisan “Populariseering van het reizen[13], harga tiket yang ditawarkan rangkaian kereta api ini adalah sebesar 6 dan 4 gulden untuk dewasa di kelas 1 dan 2, sementara anak-anak diberi potongan setengah harga. Nilai harga ini diharapkan bisa menarik perhatian para keluarga yang sering memakai mobil jika bepergian ke Bandung.

Setelah melakukan rangkaian percobaan dan promosi, SS akhirnya meluncurkan rangkaian kereta api Vlugge Vier tanggal 1 November 1934. Di tanggal tersebut, sebanyak 9 penumpang kelas satu, 13 penumpang kelas dua, dan 3 penumpang kelas tiga berangkat dari Stasiun Priok menuju Bandung[14]. Sedangkan dari Bandung, kereta pertama ini membawa 3 penumpang kelas satu, beberapa penumpang kelas dua, dan 27 penumpang kelas 3 (“De Vlugge Vier,” 1934)[15]. Mereka tercatat sebagai penumpang di perjalanan resmi Vlugge Vier perdana.

[1] Idris, Muhammad. Duit Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Menipis, Kini Berharap APBN. Kompas. 17 Juli 2022. https://money.kompas.com/read/2022/07/17/110140326/duit-proyek-kereta-cepat-jakarta-bandung-menipis-kini-berharap-apbn?page=all (Diakses 23 Juli 2022).

Gambar utama: Lokomotif C2858, melintas di atas jembatan Ci Tarum, Bekasi, Desember 1949. Lokomotif sejenis pernah dipakai untuk menarik rangkaian Vlugge Vier sejak 1934. Foto koleksi: Dienst voor Legercontacten Indonesië Reportage.

Referensi:
[2] Oegema, J.J.G.. 1982. De Stoomtractie op Java en Sumatra / J.J.G. Oegema. Deventer-Antwerpen: Kluwer Technische Boeken B.V., 193.

[3] Oegema, 1982: 193

[4] De Vlugge Vier. De koerier. 08 September 1934.

[5] Allerlei uit Bandoeng. De Avondpost. 23 September 1934.

[6] Een Jaar Luchtverkeer (Ontleend aan de Luchtvaartgids 1930). Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie. 03 Januari 1930.

[7] Oegema, 1982: 195

[8] De Vlugge Vier. De koerier. 08 September 1934.

[9] Allerlei Uit Bandoeng. De avondpost. 23 September 1934.

[10] Allerlei Uit Bandoeng. De avondpost. 23 September 1934.

[11] Eendaagsche snelste trein van Azie. De locomotief. 29 Februari 1934.

[12] Sprekende Reclame van de S. S. De koerier. 27 September 1934

[13] Populariseering van het reizen. Bataviaasch nieuwsblad. 11 Oktober 1934.

[14] Twee jubilea en een nieuwe verbinding. Bataviaasch nieuwsblad. 1 November 1934.

[15] De Vlugge Vier. De koerier. 1 November 1934

Leave a Reply

Your email address will not be published.